Rabu, 29 April 2015

Antara Sial Dan Beruntung

Cerita seputar batik
Ini saya mau berbagi pengalaman Gan Lanang Lan Gan Wadon Facta demi allah kalo gak percaya
Monggo Di simak
Begini ceritanya :
Pada saat itu keadaan sendang genting. Perekonomi keluarga sedang mengalami Resesi Moneter sehingga dompet saya Hampir Tinggal Tulang tanpa daging. Saat itu bertepatan dengan menjelang hari raya idul Fitri, Biasalah orang kalo mau lebaran suka belanja baju baru.. pada saat itu aku masih belum bekerja maklum anak muda biasanya baru lulus pengen jadi pengangguran dulu, kan udah jadi Tradisi, tapi sekarang alhamdulillah uda kerja meskipun masih kontrak, malah curhat aku, sorry gan kita lanjut lagi ceritanya,  pada saat itu orang tuaku pun sedang gak punya uang juga, dan aku punya inisiatif aku coba cari uang tambahan buat beli baju, dan akhirnya aku dapat kerjaan meskipun hanya jagain Dagangan orang sebut aja bapak M, mungkin dia merasa ibah dengan keadaanku. Miris pokoknya, tapi aku tetep senyum dan ku jalani pekerjaan itu, hari demi hari kadang laku kadang sepi tapi di jalani aelah dari pada gak kerja, biar berguna dikit hidupku, pada saat itu aku mendapat gaji lumayan sekitar 150 Rb , cukuplah buat beli celana yang biasa yang penting kelihatan baru, tetapi uang tersebut tak bertahan lama mungkin uang ku bosen masuk di dalam dompetku, tepatnya di Rumahku” ibuku tanya” dapat gaji berapa kamu ? 150 Rb bu…”Jawabku” (dengan wajah yang jelek) emang wajahku jelek tapi manis, dikit.
alhamdulillah anakku bisa cari uang, tapi pernah denger gak gaji pertama itu kalo bisa Di kasihkan Ibu Biar Barokah”Sahut Ibuku yang cantik.”
Bilang aja mau malak bu “balas ku
sambil mengasihkan uang tersebut ke ibuku, aku berkata “aku sebenarnya ingin beli baju”
uang ini buat beli suguhan untuk Idul Fitri nanti nak!!! “jawab ibuku”
“memang keadaan keluargaku saat itu sedang Down banget bahkan uda stadium akut mungkin” dan aku pun keluar rumah sambil memelaskan wajah dan tiba – tiba ayahku menegorku dan bilang “jangan sedih udah tak buatin baju kok jangan kawatir tak buatin kemeja batik biar kelihatan resmi ? dan akupun tertegun dengan senyum yang amat jelek dari wajahku yang amat hancur, sambil berkata “makasih yah udah mau buatin aku baju, tapi bener loh”,
Malam idul fitri pun tiba dan ketika ba’da sholat maghrib ayahku menghampiriku dengan memberikan kemeja batik bermotif parang, Aku bahagia sekali dan ku coba ternyata sangat cocok, dengan gembira aku berkata “akhirnya punya baju batik”, Keesokan harinya ketikaku terbangun dari tidurku, kumandang takbir menggema di mana – mana menunjukan berhasilnya kita melalui puasa ramadhan, dengan semangat aku bangun tidur dan cepet – cepet mandi untuk pergi ke masjid menunaikan sholat bersama – sama, ketika sholat idul fitri selesai kami sekeluarga pulang dengan rasa tak sabar ingin cepat – cepat sampai, tak lama kemudian sampailah aku di gubuk sederhana “rumahku” lalu aku berganti pakaian yang telah di buatkan ayahku, dengan Percaya diri aku menemui para tamu yang sedang bersilaturahmi ke rumah. sekian menit berlalu selanjutnya kamipun pergi ke rumah nenek untuk saling bermaaf – maafan di tengah perjalanan aku merasa aneh dengan kedua orang tuaku mereka senyum – senyum sendiri, tapi tak ku hiraukan maklum keluargaku suka bergurau jadi aku tidak curiga. Sesampainya di rumah nenek, kejadian di luar  dugaan terjadi, dengan setting tempat yang sangat tepat. seluruh keluarga sedang berkumpul Tua Muda menjadi satu dan sedang bercucuran air mata usai sungkeman dengan Nenekku,tapi semua itu berubah menjadi tawa dan hanya aku yang terdunduk malu merasa kasihan dan menertawai diriku sendiri. Ternyata baju batik yang tak pakai sama dengan kain Sewek nenekku y ampun malang banget nasibku mungkin kalo masuk Acara penghargaan juara satu aku  kategori manusia tersiksa pada saat itu… suasana pun berubah tadinya yang sangat hitmat menjadi ramai karena kedatanganku, tapi gak apalah di balik itu semua aku tau barokah uang yang tak kasihkan ke ibuku ternyata mendapat balasan 5x lipatnya dengan di kasih uang ampao oleh seluruh keluargaku yang merasa sangat terhibur karna ulah ayahku…


Tidak ada komentar :

Posting Komentar